Translate

Translate

Senin, 13 Mei 2013

Normative theories of accounting the case of conceptual framework project



KERANGKA DASAR KONSEPTUAL
YANG MENDASARI AKUNTANSI KEUANGAN
 

1.      PENDAHULUAN
Menurut FASB, kerangka dasar konseptual merupakan dasar untuk menetapkan standar-standar akuntansi.  Sedang menurut  Kieso kerangka dasar konseptual merupakan suatu system koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan penetuan sifat, fungsi, serta batas-batas dari akuntansi keuangan dan laporan keuangan.
Pernyataan yang membentuk kerangka dasar menurut SFAC:
1)      SFAC 1           Tujuan-tujuan akuntansu untuk perusahaan bisnis.
2)      SFAC 2           Karakteristik kualitatif informasi keuangan.
3)      SFAC 3           Definisi unsur-unsur laporan keuangan untuk perusahaan bisnis
4)      SFAC 4           Tujuan-tujuan akuntansi untuk perusahaan bukan bisnis
5)      SFAC 5           Definisi konsep-konsep seperti pengakuan, realisasi, dan  pengukuran untuk perusahaan bisnis, memberikan pedoman padaapa yang harus dicakup dalam laporan keuangan dan kapan.
6)      SFAC 6           menggantikan SFAC 3 dengan mendefinisikan unsure-unsur laporan keuangan untuk semua perusahaan.
Kerangka dasar konseptual sangat dibutuhkan karena:
1.       Agar bermanfaat maka penetapan standar harus berlandaskan dan berhuubungan dengan serangkaian konsep serta tujuan fundamental. Kerangka dasar konseptual ini akan meningkatkan Pemahaman dan keyakinan pemakai laporna keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan komparabilitas antar laporan keuangan perusahaan.
2.       Masalah-masalah praktis yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu pada kerangka teori dasar yang telah ada.




Sedangkan menurut FASB, istilah-istilah hierarki dalam suatu kerangka dasar konseptual untuk akuntansi dan pelaporan keuangan adalah sebagai berikut :
1)      Tujuan
Merupakan sesuatu arahan atau akhir dari tindakan, suatu sasaran.
2)      Informasi yang dibutuhkan
Mencakup identifikasi kategori yang luas dari informasi akuntansi keuangan yang dibutuhkan oleh pemakai.
3)      Karakteristik kualitatif
Merupakan ciri informasi akuntansi yang cenderung untuk menambah kegunaanya. Dalam karakteristik kualitatif, diharapakan: dapat bertahan terhadap pengujian waktu, pervasive, dan dapat diterapkan.
4)      Fundamental
Merupakan konsep-konsep dasar yang mendasari pengukuran transaksi dan kejadian dan mengungkapkannya dalam cara yang berarti bagi pemakai laporan keuangan.
5)      Standar
Merupakan pemecahan umum atas masalah-masalah transaksi keuangan.
6)      Interpretasi
Menjernihkan, menjelaskan, atau menguraikan secara panjang lebar standar akuntansi dan pelaporan sebagai suatu alat bantu bagi penerapannya dalam praktik akuntansi
7)      Praktik
Sarana untuk mencapai tujuan-tujuan dasar dari pelaporan keuangan.
Selama bertahun-tahun, berbagai organisasi telah mengembangkan serta mempublikasikan kerangka kerja konseptualnya sendiri, tetapi tidak ada kerangka kerja yang diterima secara universal dan di andalkan dalam praktek. FASB pada tahun 1976 mulai mengembangkan kerangka kerja konseptual yang akan menjadi dasar bagi penetapan standar akuntansi dan pemecahan kontroversi pelaporan keuangan. Tiga ciri utama dari kerangka dasar konseptual adalah :
1)      Tujuan Akuntansi
2)      Karakteristik kualitatif informasi akuntansi yang berguna
3)      Konsep-konsep mendasar dalam akuntansi

2.      TUJUAN DASAR
Dalam menyediakan informasi kepada pemakai laporan keuangan, profesi akuntansi menganalkan laporan keuangan bertujuan umum. Maksud dari lapooran keuangan bertujuan umum adalah menyediakan informasi yang paling bermanfaat dengan biaya minimal kepada berbagai kelompok pemakai.
Hal yang mendasari tujuan ini adalah konsep bahwa pemakai membutuhkan pengetahuan yang memaai tentang persoalan bisnis dan akuntansi keuangan untuk memahami informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Pemakai diasumsikan memiliki kompetensi yang memadai untuk memahami laopran keuangan. Tujuan laporan keuangan adalah :
1)      menyediakan informasi yang berkaitan dengan posisi keuangan, prestasi perusahaan, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2)      Laporan keuangan juga menunjukkan pertanggunjawaban pengelolaan perusahaan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

3.      KONSEP FUNDAMENTAL
Untuk menilai mengimplementasian tujuan dan sasaran dari akuntansi maka diperlukan tiang-tiang konseptual untuk menjelaskan karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi dan mendeinisikan unsure-unsur laporan keuangan. Tiang-tiang konseptual tersebut akan menghubungakan antara tujuan akuntansi dengan bagaimana pengakuan serta pengukurannya.

a.      Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi
Pemilihan metode akuntansi yang tepat, jumlah dan jenis informasi yang harus diungkapkan serta format penyajiannya melibatkan penentuan alternative mana yang menyediakan informasi paling bermanfaan untuk tujuan pengambilan keputusan. Karakteristik kualitatif terdiri dari:
1)      Relevansi dan Reliabilitas
Relevansi dan reliabilitas merupakan dua kualitas primer yang membuat informasi akuntansi berguna untuk pengambilan keputusan. Agar relevan, informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Jika tidak mempengaruhi keputusan maka informasi tersebut dikatakan tidak relevan terhadap keputusan yang diambil. Informasi yang relevan akan membantu pemakai memprediksi tentang hasil akhir dari kejadian masa lalu, masa kini, dan masa depan. Jadi agar informasi akuntansi relevan, informasi harus tepat waktu pada saat disajikan.
Informasi akuntansi dianggap reliable (handal) jika dapat diversifikasi, disajikan secara tepat, serta bebas dari kesalahan dan bias. Unsur-unsur dari reliabel adalah daya uji (ditunjukkan ketika pengukur-pengukur independen dengan menggunakan metode pengukuran yang sama, akan mendapatkan hasil yang sama), ketepatan penyajian (angka-angka dan penjelasan dalam laporan keuangan mewakili apa yang benar-benar dad an terjadi), serta netralitas (informasi tidak dipilih untuk kepentingan sekelompok pemakai tertentu, informasi harus factual, benar, dan tidak bias).
2)      Komparabilitas dan Konsistensi
Informasi tentang sebuah perusahaan akan lebih berguna jika bisa diperbandingkan dengan informasi serupa menyangkut perusahaan lain (komparabilitas) dan dengan informasi yang serupa dari perusahaan yang sama pada periode waktu yang berbeda (konsistensi).
Komparabilitas berarti bahwa informasi dari berbagai perusahaan dipandang memiliki komparabilitas jika telah diukur dan dilaporkan denga cara yang sama. Komparabilitas memungkinkan pemakai mengidentifikasi persamaan dan perbedaan riil dalam peristiwa ekonomi antar perusahaan.
Konsistensi didefinisikan apabila sebuah entitas mengaplikasikan perlakuan akuntansi yang sama untuk kejadian-kejadian yang serupa, dari period eke periode, maka entitas tersebut dianggap konsisten dalam menggunakan standar akuntansi. Perusahaan dapat mengganti satu metode dengan metode metode lainnya, tetapi perusahaan harus dapat menunjukkan bahwa metode yang baru tersebut lebih baik dari metode sebelumnya. Kemudian sifat dan pengaruh perubahan akuntansi, serta alasannya, harus diungkapkan dalam laoran keuangan pada periode terjadinya perubahan.
3)      Materialitas
Informasi dipandang materialitas apabila kelalaian mencantumkan, atau kesalahan dalam mencatat informasi dipandang dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna, yang mendasarkan keputusannya pada informasi tersebut.
 b.      Unsur-Unsur Dasar
Komponen-komponen dalam laporan keuangan terdiri dari :
1)      Aktiva
Manfaat ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan, yang diperoleh atau dikendalikan oleh sebuah entitsa sabahai hasil dari transaksi-transaksi atau kejadian-kejadian di masa lalu.
2)      Kewajiban
Merupakan hutang perusahaan masa kini yang timbul sebagai akibat dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya mengakibatkan adanya arus kas keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi.
3)      Ekuitas
Kepentingan residu dalam aktiva sebuah entitas, setelah dikurangi dengan kewajibannya. Dalam entitas bisnis, ekuitas merupakan kepentingan kepemilikan.
4)      Investasi oleh pemilik
Kenaikan aktiva bersih sebuah perusahaan yang ditimbulkan oleh transfer sesuatu yang bernilai dari entitas lain kepada perusahaan tersebut untuk mendapatkan atau menaikkan kepentingan kepemilikan didalamnya.
5)      Distribusi kepada pemilik
Penurunan aktiva bersih sebuah perusahaan yang diakibatkan oleh pemindahan aktiva, penyediaan jasa, atau penciptaan kewajiban oleh perusahaan kepada pemilik.
6)      Laba komprehensif
Perubahan ekuitas sebuah entitas selama suatu periode yang diakibatkan oleh transaksi dan kejadian lain yang bukan bersumber dari pemilik. Hal ini termasuk semua perubahan ekuitas selama suatu periode akuntansi kecuali perubahan yang diakibatkan oleh investasi oleh pemilik dan distribusi kepada pemilik.
7)      Pendapatan
Arus msuk atau peningkatan lainnya atas aktiva sebuah entitas atau pelunasan kewajiban selama suatu periode dari pengiriman atau produksi barang, penyedia jasa, atau aktivitas-aktivitas lain yang merupakan operasi utama atau operasi sentral perusahaan.
8)      Beban
Arus keluar atu penggunaan lainnya atas aktiva sebuah entitas atau terjadinya kewajiban selama suatu periode dari pengiriman atau prodeksi barang, penyedia jasa, atau aktivitas lain yang merupakan operasi utama ata operasi sentral perusahaan.
9)      Keuntungan
Kanaikan ekuitas sebuah perusahaan yang ditimbulkan oleh transaksi atau insidentil dan dari semua transaksi serta kejadian lainnya dan situasi yang mempengaruhi perusahaan selama suatu periode kecuali yang berasal dari pendapatan atau investasi oleh pemilik.
10)  Kerugian
Penurunan ekuitas sebuah perusahaan yang ditimbulkan ileh transaksi atau insidentil dan dari semua transaksi serta kejadian lainnya dan situasi yang mempengaruhi perusahaan selama suatu periode kecuali yang berasal dari pendapatan atau investasi oleh pemilik.

4.      KONSEP PENGAKUAN DAN PENGUKURAN
a.       Entitas Ekonomi
Asumsi entitas ekonomi mengandung arti bahwa aktivitas ekonomi dapat diidentifikasi dengan unit pertanggungjawaban tertentu. Dengan kata lain, aktivitas entitas bisnis dapat dipisahkan dan dibedakan dengan aktivtas pemiliknya dan dengan setiap unit bisnis lainnya. Konsep entitas tidak selalu mengacu pada entitas legal.
b.      Kelangsungan Hidup
Sebagian besar metode akuntasni didasarkan pada asumsi kelangsungan hidup perusahaan, dimana perusahaan diasumsikan akan memiliki umur yang panjang.
c.       Unit Moneter
Asumsi unit moneter memiliki arti bahwa uang adalah denominator umum dari kativitas ekonomi dan merupakan dasar yang tepat bagi pengukuran dan analisis akuntansi.asumsi ini menyiratkan bahwa unit moneter adalah cara paling efektif untuk menunjukkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan tentang perubahan modal serta pertukaran barang dan jasa. Unit moneter adalah unit yang relevan, sederhana, tersedia universal, dapat dpahami dan berguna.
d.      Periodisitas
Asumsi periodisitas atau periode waktu menyiratkan bahwa aktivitas ekonomi sebuah perusahaan dapat dipisahkan ke dalam periode waktu. Periode waktu ini bervariasi, tetapi yang paling umum adalah secara bulanan, kuartalan, dan tahunan.

5.      PRINSIP-PRINSIP DASAR AKUNTANSI
a.       Biaya Historis
Aset dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kmewajiban (obligation), atau dalam keadaan tertentu (misalnya, pajak penghasilan), dalam jumlah kas (atau setara kas) yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang normal.
b.      Pengakuan Pendapatan
Pendapatan umumnya diakui pada saat:
-          Jika telah direalisasi atau dapat direalisasi
Jika produk (barang dan jasa), barang dagang, atau aktiva lainnya telah dipertukarkan dengan kas atau klaim atas kas.
-          Jika telah dihasilkan
Apabila sebuah entitas telah  melakukan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan hak ats manfaat yang direpresentasikan oleh pendapatan.
c.       Penandingan
Prinsip penandingan mendifinisikan bahwa usaha ditandingkan dengan pencapaian (pendapatan) sepanjang hal ini rasional.
d.      Pengungkapan Penuh
Dalam memutuskan informasi apa saya yang akan dilaporkan, praktek yang umum adalah menyediakan informasi yang mencukupi untuk mempengaruhi penilaian dan keputusan pemakai. Prinsip ini sering disebut dengan prinsip pengungkapan penuh, mengakui bahwa sifat dan jumlah informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan mencerminkan serangkaiaan trade off:
-          Kebutuhan untuk mengungkapkan secara cukup terperinci hal-hal yang akan mempengaruhi keputusan pemakai
-          Kebutuhan untuk memadatkan penyajian agar informasi dapat dipahami.


PENYAJIAN PELAPORAN KEUANGAN MENURUT SAK TAHUN 2010

1.      PENDAHULUAN
Pernyataan SAK ini menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statements) yang selanjutnya disebut ‘laporan keuangan’ agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas lain. Pernyataan SAK ini mengatur persyaratan bagi penyajian laporan keuangan, struktur laporan keuangan, dan persyaratan minimum isi laporan keuangan. Pengertian dari laporan akuntansi bertujuan umum adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan.
Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi:
a.       Asset
b.      Laibilitas
c.       Ekuitas
d.      pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian
e.       kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik
f.       arus kas.
Informasi tersebut, beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan, membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan dan, khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas.

1.         Komponen Laporan Keuangan Lengkap
Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini:
a)      laporan posisi keuangan pada akhir periode
b)      laporan laba rugi komprehensif selama periode
c)      laporan perubahan ekuitas selama periode
d)     laporan arus kas selama periode
e)      catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lainnya
f)       laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya.

Entitas menyajikan semua komponen laporan keuangan lengkap dengan tingkat keutamaan yang sama. Entitas dapat menyajikan komponen laba rugi baik sebagai bagian dari laporan laba rugi komprehensif atau laporan laba rugi terpisah. Jika laporan laba rugi disajikan, maka laporan tersebut merupakan bagian dari komponen laporan keuangan yang lengkap dan disajikan sebelum laporan pendapatan komprehensif.
Beberapa entitas menyajikan, terpisah dari laporan keuangan, suatu kajian keuangan oleh manajemen yang menjelaskan karakteristik utama dari kinerja keuangan dan posisi keuangan, dan kondisi ketidakpastian utama yang dihadapi. Laporan tersebut dapat meliputi kajian mengenai:
a)      Faktor dan pengaruh-pengaruh utama yang menentukan kinerja keuangan, termasuk perubahan lingkungan tempat entitas beroperasi, tanggapan terhadap perubahan dan pengaruhnya, dan kebijakan investasi untuk memelihara serta meningkatkan kinerja keuangannya, termasuk kebijakan dividen
b)      Sumber pendanaan entitas dan target rasio laibilitas terhadap ekuitas
c)      Sumber daya entitas yang tidak diakui dalam laporan posisi keuangan sesuai dengan`SAK.
Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas suatu entitas. Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara jujur dampak dari transaksi, peristiwa dan kondisi lain sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, laibilitas, pendapatan dan beban yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Penerapan SAK, dengan pengungkapan tambahan jika diperlukan, dianggap menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar. Dalam hampir semua kondisi, entitas mencapai penyajian laporan keuangan secara wajar apabila memenuhi SAK terkait. Penyajian secara wajar juga mensyaratkan entitas untuk:
a)      memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi sesuai dengan PSAK 25. PSAK 25 mengatur hirarki pedoman otoritatif yang dipertimbangkan oleh manajemen dalam hal tidak terdapat PSAK yang secara khusus mengatur suatu pos tertentu.
b)      menyajikan informasi, termasuk kebijakan akuntansi, sedemikian rupa sehingga dapat memberikan informasi yang relevan, andal, dapat diperbandingkan, dan mudah dipahami. memberikan pengungkapan tambahan jika kesesuaian dengan persyaratan khusus dalam SAK tidak cukup bagi pengguna laporan keuangan untuk memahami pengaruh dari transaksi tertentu, peristiwa dan kondisi lain terhadap posisi keuangan dan kinerja keuangan entitas Usaha
Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen membuat penilaian tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Entitas menyusun laporan keuangan berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen bertujuan untuk melikuidasi entitas atau menghentikan perdagangan, atau tidak mempunyai alternatif lainnya yang realistis selain melakukannya. Jika manajemen menyadari (dalam membuat penilaiannya) mengenai adanya ketidakpastian yang material sehubungan dengan peristiwa atau kondisi yang dapat menimbulkan keraguan yang signifikan tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan ketidakpastian tersebut. Jika entitas menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan fakta tersebut, bersama dengan dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan alasan mengapa entitas tidak dipertimbangkan sebagai entitas yang dapat menggunakan asumsi kelangsungan usaha. Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas.
Ketika akuntansi berbasis akrual digunakan, entitas mengakui pos-pos sebagai aset, laibilitas, ekuitas, pendapatan dan beban (unsur-unsur laporan keuangan) ketika pos-pos tersebut memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk unsurunsur tersebut dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan.

2.         Pemakai Laporan Keuangan
Pengguna laporan keuangan meliputi :
1)      Investor yang berkepentingan dengan risiko dan hasil dari investasi yang mereka lakukan. Informasi dibutuhkan untuk menentukan apakan mereka akan membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Yang biasa dilihat oleh investor adalah informasi mengenai kemampuan perusahaan membayar deviden.
2)      Kreditor, yang menggunakan informasi akuntansi untuk membantu mereka memutuskan apakah pinjaman dan bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.
3)      Pemasok, yang membutuhkan informasi mengenai kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang-hutangnya pada saat jatuh tempo.
4)      Karyawan, yang membutuhkan informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan, dan kemampuan memberi pensiun serta kesempatan kerja
5)      Pelanggan, yang berpentingan dengan informasi tentang kelangsungan hidup perusahaan terutama bagi mereka yang meimliki perjanjian jangka panjang dengan perusahaan.
6)      Pemerintah, yang berkentingan dengan informsi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak, dan untuk menyusun statistik pendapat nasional dan lain- lain
7)      Masyarakat, yang berkepentingan dengan informasi tentang kecenderungan dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta berbagai aktivitas yang menyertainya

3.         Tujuan Pelaporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.
Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship), atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi; keputusan ini mungkin mencakup, misalnya, keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen.

4.         Posisi Keuangan, Kinerja, dan Perubahan Posisi Keuangan
Keputusan ekonomi yang diambil pemakai laporan keuangan memerlukan evaluasi atas kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas (dan setara kas), dan waktu serta kepastian dari hasil tersebut. Kemampuan ini akhirnya menentukan, misalnya, kemampuan pembayaran kepada para karyawan dan para pemasok, kemampuan pembayaran bunga, pembayaran kembali pinjaman dan pembagian penghasilan kepada para pemilik. Para pemakai dapat mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas (dan setara kas) dengan lebih baik kalau mereka mendapat informasi yang difokuskan pada posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan perusahaan.
Posisi keuangan perusahaan dipengaruhi oleh sumber daya yang dikendalikan, struktur keuangan, likuiditas dan solvabilitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Informasi sumber daya ekonomi yang dikendalikan dan kemampuan perusahaan dalam memodifikasi sumber daya ini di masa lalu berguna untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas (dan setara kas) di masa depan. Informasi struktur keuangan berguna untuk memprediksi kebutuhan pinjaman di masa depan dan bagaimana penghasilan bersih (laba) dan arus kas di masa depan akan didistribusikan kepada mereka yang memiliki hak di dalam perusahaan; informasi tersebut juga berguna untuk memprediksi seberapa jauh perusahaan akan berhasil meningkatkan lebih lanjutsumber keuangannya. Informasi likuiditas dan solvabilitas berguna untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam pemenuhan komitmen keuangannya pada saat jatuh tempo. Likuiditas merupakan ketersediaan kas jangka pendek di masa depan setelah memperhitungkan komitmen yang ada. Solvabilitas merupakan ketersediaan kas jangka panjang untuk memenuhi komitmen pada saat jatuh tempo.

5.         Asumsi Dasar
                        a.         Dasar akrual
Agar laporan keuangan mencapai tujuannya, laporan keuangan disusun atas dasar konsep akrual. Atas dasar asumsi ini, pengaruh peristiwa atau transaksi diukur dan diakui/ dicatat dalam laporan keuangan pada saat terjadinya, bukan pada saat diterima atau dikeluarkanya kas. Dengan asumsi ini, laporan keuangan diharapkan dapat memberikan informasi tentang masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas, serta kewajiban pembayaran kas di masa mendatang dan sumber daya yang menggambarkan kas yang akan diterima di masa mendatang.  
b.      Kelangsungan Usaha
                      Dalam penyusunan  laporan keuangan diasumsikan bahwa perusahaan akan hidup terusdan     
             akan melanjutkan usahanya di masa mendatang. Dengan demikian, perusahaan tidak bermaksud 
             melikuidasi usahanya dan meperkecil atau mengurangi secara material usahanya. Apabila akan 
             melakukan hal tersbut, maka informasi mengenai rencana likuidasi atau penurunan skala 
             perusaahaan harus diungkapkan dalam laporan keuangan.

  1. Karakteristik Laporan Keuangan
Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pengguna.
1)      Dapat dipahami
kualitas penting informasi yang ditampung, dalam laporan keuangan adalah kemudahan untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. Untuk maksud ini, pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadahi tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauannya untuk mempelajari informasi dengan ketekuanan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh pengguna tertentu.
2)      Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pengguna dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini, atau masa depan, menegaskan, atau mengoreksi, hasil evaluasi pengguna di masa lalu.
3)      Materialitas
Informasi dipandang materialitas apabila kelalaian mencantumkan, atau kesalahan dalam mencatat informasi dipandang dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna, yang mendasarkan keputusannya pada informasi tersebut.
4)      Keandalan
Agar bermanfaat, informasi juga harus andal (reliable). Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan penggunanya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful repreentation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.
5)      Penyajian jujur
Informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan.
6)   Substansi mengungguli bentuk
Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka peristiwa tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya.
7)   Netralitas
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pengguna, dan tidak tergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan beberapa pihak, sementara hal itu merugikan pihak lain yang mempunyai kepentingan yang berlawanan.
8)   Pertimbangan sehat
Ketidakpastian dalam ketertagihan piutang yang diragukan, perkiraan masa manfaat pabrik serta peralatan, dan tuntutan atas jaminan garansi yang mungkin timbul. Hal semacam itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatannya dan dengan menggunakan pertimbangan sehat.
9)   Kelengkapan
Agar dapat diandalkan informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya.
10)  Dapat dibandingkan
Pengguna harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja

  1. Unsur Laporan Keuangan
Penyajian berbagai unsur ini dalam neraca dan laporan laba rugi memerlukan proses sub-klasifikasi. Misalnya, aktiva dan kewajiban dapat diklasifikasikan menurut hakekat atau fungsinya dalam bisnis perusahaan dengan maksud untuk menyajikan informasi dengan cara yang paling berguna bagi pemakai untuk tujuan pengambilan keputusan ekonomi.
Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aktiva, kewajiban dan ekuitas. Pos-pos ini didefinisikan sebagai berikut:
a.       Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan.
b.      Kewajiban merupakan hutang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi.
c.       Ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban.
 
  1. Pengakuan Unsur Laporan Keuangan
Pengakuan (recognition) merupakan proses pembentukan suatu pos yang memenuhi definisi unsur serta kriteria pengakuan yang dikemukakan, dalam neraca atau laporan laba rugi. Pengakuan dilakukan dengan menyatakan pos tersebut baik dalam kata-kata maupun dalam jumlah uang dan mencantumkannya ke dalam neraca atau laporan laba rugi. Pos yang memenuhi kriteria tersebut harus diakui dalam neraca atau laporan laba rugi. Kelalaian untuk mengakui pos semacam itu tidak dapat diralat melalui pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan maupun melalui catatan atau materi penjelasan.
Pos yang memenuhi definisi suatu unsur harus diakui kalau:
a.       ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam perusahaan
b.      pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.

  1. Pengukuran Unsur Laporan Keuangan
Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan laba rugi. Proses ini menyangkut pemilihan dasar pengukuran tertentu.
Sejumlah dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan kombinasi yang berbeda dalam laporan keuangan. Berbagai dasar pengukuran tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Biaya historis. Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan {consideration) yang diberikan untuk memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban (obligation), atau dalam keadaan tertentu (misalnya, pajak penghasilan), dalam jumlah kas (atau setara kas)yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang normal.
  2. Biaya kini (current cost). Aktiva dinilai dalam jumlah kas (atau setara kas) yang seharusnya dibayar bila aktiva yang sama atau setara aktiva diperoleh sekarang. Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan (undiscounted) yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang.
  3. Nilai realisasi/penyelesaian (realisable/settlement value). Aktiva dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aktiva dalam pelepasan normal (orderly disposal). Kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian; yaitu, jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
  4. Nilai sekarang (present value). Aktiva dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal. Kewajiban dinyatakan sebesar arus kas keluar bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
  1. Konsep Modal dan Pemeliharaan Modal
Dua konsep pemeliharaan modal:
a.       Pemeliharaan modal keuangan. Menurut konsep ini, laba hanya diperoleh kalau jumlah finansial (atau uang) dari aktiva bersih pada akhir periode melebihi jumla h finansial (atau uang) dari aktiva bersih pada awal periode, setelah memasukkan kembali setiap distribusi kepada, dan mengeluarkan setiap kontribusi dari, para pemilik selama periode. Pemeliharaan modal keuangan dapat diukur baik dalam satuan moneter nominal atau dalam satuan daya beli yang konstan.  
b. Pemeliharaan modal fisik. Menurut konsep ini laba hanya diperoleh kalau kapasitas produktif fisik (atau kemampuan usaha) pada akhir periode melebihi kapasitas produktif fisik pada awal periode, setelah memasukkan kembali setiap distribusi kepada, dan mengeluarkan setiap kontribusi dari, para pemilik selama suatu periode.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar